Minggu, 19 Mei 2013
Kado Ulang Tahunku
By Lia Hafiza
Tak bisa kujelaskan agar kalian mengerti. Ungkapanpun tak setepat kisah yang terjadi. Lalu apa yang perlu kukatakan? Kisahku dimulai hari itu, ketika seorang lelaki berjalan dari pandangan kiriku. Aku mengenalnya? Tidak. Dia dari sekolah ini? Aku tak tahu. Alumni? Mungkin. Adik kelas? Entahlah. Dengan hem coklat yang dikenakannya, ia melangkah dengan perlahan menuju lapangan. Sungguh tak bisa mengenal dan mengingatnya. Cerita ini adalah pengalaman pribadiku yang sangat mengesankan. Inilah kisahku yang kuanggap kado terindah di ulang tahun yang ke-16.
27 Oktober 2011. Gerimis yang menjumpai Banjarbaru sore ini beranjak pergi. Kamis petang yang indah, suasana kuning senja yang menyenangkan. Sekolah memang sedang ramai, sore ini senior-senior kami sedang berjuang menyelesaikan sidang hasil magang mereka. Selepas mempersiapkan pentas tari, aku bersama teman temanku pergi kelapangan. Aku diajak oleh mereka belajar bermain voli. Kemudian ada seorang lelaki datang dan diminta oleh seorang temanku, Ade, untuk mengajari kami bermain voli.
Entah siapa dia. Dia pergi sebntar dan sekarang dia sudah mengganti pakaiannya. Baru pertama kali aku melihatnya disekolah ini. Hatiku bertanya-tanya banyak hal. Sungguh banyak sekali. Mungkin teman temanku sudah mengenalnya. Entah mengapa mataku tak jelas melihatnya kala itu, membuatku semakin bertanya dalam hati.
Diapun mulai melangkah menuju lapangan dan mulai mengajari kami passing. Ternyata dia adik kelasku, karena dia memanggil salah seorang temanku dengan panggilan "Ka". Bolapun dilempar satu persatu ke arah kami. Karena kami baru pertama kali bermain voli. Bola yang kami passing-pun tak jelas arahnya. Dia sangat sabar mengajari kami. Bola menggelinding kemana mana, tanpa komentar banyak, dia ambil bola itu dan kembali mengajari kami. Saat itulah ada kalimat yang selalu kuingat. "Kalau melempar bola itu pakai perasaan ka" katanya dengan ramah. Kami hanya tertawa mendengarnya. Terngiang-ngiang dikepalaku "perasaan! perasaan! perasaan!". Bola pun dilempar ketemanku, ternyata passing temanku membuat bola terlempar sangat jauh. Lelaki itu mengatakan "berarti kaka hatinya keras" kami hanya tertawa menganggap itu gurauan belaka. Akhirnya giliranku, ternyata lebih mengejutkan! Bola yang ku-passing jatuh didepanku sendiri. Dia kembali berkomentar "berarti kaka ini hatinya lembut" dan aku membalikkan badan sambil tertawa. Wajahku memerah mendengar ejekan temanku "ciee kaka lembut".
Pelajaran bermain voli hari ini tetap berlanjut. Dia menginstruksikan kami untuk berdiri berjajar membentuk lingkaran. Dia berdiri ditengah lingkaran, dan memberikan bola secara bergantian. Beberapa saat kemudian, bola yang di-passing terus menuju ke arahku sampai ada seorang temanku namanya Dhea berkata "kenapa Lia terus yang dikasih?" Dhea mencoba mengatakan sesuatu pada Ade, temanku yang lain. Aku tak tahu apa yang ingin mereka lakukan. Ternyata mereka justru duduk melingkari kami dan menatap kami dengan senyum dan tawa kecil.
Selang beberapa lama kemudian, diapun pergi karena harus menghadiri undangan dari senior kami sebagai audience. Entah kenapa saat itu semangatku bermain menurun. Senja ini kuakhiri dengan perasaan yang tidak bisa kuungkapkan. Entah itu rasa jengkel, malu atau senang atas pujiannya. Aku pulang membawa begitu banyak pertanyaan dalam pikiranku. Ada dua hal yang kutahu, dia adik kelasku dan dia adalah Yuongky, siswa kelas 1 yang ku-ospek beberapa bulan yang lalu. Sungguh aneh, hanya wajahnya yang tak pernah kulihat dari 100 lebih siswa baru. Dan namanya tak pernah terbaca olehku di daftar hadir peserta ospek kala itu. Tahu namanya pun karena yang lain memanggil namanya.
Malam tiba, perasaan masih bercampur aduk. Pikiran melayang memikirkan siapa dia. Tidurku kala itu begitu nyenyak. Seakan tak ada beban yang perlu kupikirkan lagi. Entah kenapa hari ini aku sampai bisa melupakan besok adalah hari ulang tahunku. Hanya karena bertemu dengannya aku melupakan 28 Oktoberku.
By Lia Hafiza
To be continued ...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar